Tingginya jumlah kasus HIV/AIDS di kalangan remaja belakangan ini telah mendorong berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk peduli terhadap masalah kesehatan reproduksi remaja. Adalah PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) yang sudah berdiri sejak 23 Desember 1957 tetap bergairah memberikan pengarahan guna mencegah HIV/AIDS. Terbuki kini PKBI telah memiliki strategi advokasi pencegahan HIV/AIDS yang jitu di kalangan remaja.
Organisasi LSM yang terbilang paling tua dalam mengembangkan kepeduliannya terhadap masalah Kesehatan Keluarga dan Kesehatan Reproduksi ini sesungguhnya merupakan Pelopor Gerakan Keluarga Berencana di Indonesia. PKBI juga merupakan salah satu anggota dari Federasi Perkumpulan-Perkumpulan Keluarga berencana atau International Planned Parenthood Federation (IPPF) yang berkedudukan di London, Inggris.
Tak salah bila kemudian program bantuan dari UNFPA dipercayakan kepada tiga lembaga yaitu IPPF sebagai pelaksana lapangan, AIDCOM menyiapkan paket intervensi untuk advokasi dan Forum Parlemen ASEAN untuk Kependudukan dan Pembangunan yang menyelenggarakan Regional Consultative Workshop for Parliamentarians on advocacy HIV/AIDS. Maka, pelaksanaan program oleh IPPF dipercayakan kepada tiga anggotanya yaitu PKBI, Perkumpulan KB Sri Lanka dan PNG.
Menurut Lucy Herni dari PKBI Pusat, program ini selanjutnya dilaksanakan bersama antara PKBI Pusat dan PKBI DKI Jakarta sebagai lokasi uji coba. Tahapan kegiatannya diawali dengan kegiatan pengumpulan dan analisa data tentang aturan-aturan yang berkaitan dengan HIV/AIDS, kasus HIV/AIDS, program pencegahan HIV/AIDS dan kebutuhan program advokasi HIV/AIDS. “Melalui aktivitas ini kami berupaya memetakan permasalahan dan issu yang dihadapi oleh remaja dalam hal HIV/AIDS,” cetus Lucy.
Berdasar hasil tahap pertama ini, kata Lucy, selanjutnya dilakukan perencanaan dan kegiatan pelatihan Advokat Remaja yang dilakukan sebanyak dua angkatan. Pelatihan advokasi dimaksdukan untuk memberdayakan remaja dalam melakukan advokasi HIV/AIDS di lingkungan masing-masing.
Konsep unik
Dalam pelatihan Advokat Remaja itu, ungkap Lucy, PKBI mengembangkan konsep dan metode baru yaitu dengan menggunakan tema “Agen Perubahan”. Peserta pelatihan 50 orang disebut sebagai “Agen” yang berarti bahwa setelah pelatihan pada advocat remaja ini harus berperan sebagai agen perubahan di lingkungan mereka, misalnya sekolah dimana mereka berasal maupun lembaga lainnya.
Selain itu, tahap selanjutnya juga dilakukan diskusi bulanan para advokat remaja. Kegiatan ini secara rutin dilakukan untuk mendiskusikan lebih mendalam tentang HIV/AIDS, memonitor rencana tindak lanjut, berbagi pengalaman melakukan advokasi di tempat mereka masing-masing, dan sebagainya.
Dari kegiatan ini antara lain diperoleh informasi bahwa 80 persen advokat remaja yang telah dilatih telah melakukan kegiatan advokasi di lingkungannya seperti sekolah, organisasi remaja, LSM dan di lingkungan tempat tinggalnya. Para advokat bisa juga menghasilkan petisi mendukung program pecegahan HIV/AIDS yang ditandatangani oleh para kepala sekolah, guru dan tokoh-tokoh masyarakat untuk disampaikan kepada pemerintah. Lebih mudahnya lagi , para advokat sebenarnya bisa melakukan pendekatan kepada Kepala Sekolah mereka agar memasukkan Materi Kesehatan Reproduksi terutama tentang HIV/AIDS sebagai bagian pelajaran resmi di sekolah.RW
WELCOME TO MY BLOG
Kamis, 02 Desember 2010
Pemahaman Remaja tentang HIV/AIDS Minim
Pemahaman remaja tentang HIV/ AIDS masih sangat minim. Padahal, remaja termasuk kelompok usia yang rentan dengan perilaku berisiko.
Demikian terungkap dalam jumpa pers, Jumat (26/11) di Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta, terkait Peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2010 yang tahun ini dikoordinasi Kementerian Pendidikan Nasional.
Deputi Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Bidang Pengembangan Program Kemal Siregar mengatakan, salah satu indikator kinerja pengendalian HIV/AIDS ialah pengetahuan. Persentase perempuan dan laki-laki usia muda (15-24 tahun) yang mampu menjawab dengan benar cara-cara pencegahan penularan HIV serta menolak pemahaman yang salah mengenai penularan HIV baru 14,3 persen.
Persentase itu antara lain mengindikasikan belum banyak remaja yang menguasai dengan komprehensif dan benar tentang HIV/AIDS. Edukasi remaja menjadi penting karena remaja termasuk orang terinfeksi HIV. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus AIDS (kumulatif) sampai Agustus 2010 dari semua umur 21.770 orang.
Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional Hamid Muhammad mengatakan, edukasi HIV/AIDS selama ini diintegrasikan ke dalam kurikulum melalui Biologi dan Pendidikan Kesehatan Jasmani.
”Pekan depan akan ada review terhadap kurikulum dan pendidikan tentang HIV/AIDS dan lebih luas lagi soal reproduksi. Diusulkan agar lebih gamblang,” ujarnya.
Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rachman mengatakan, kekhawatiran tentang HIV/AIDS bukan berarti harus disikapi dengan membuat kurikulum khusus tentang hal itu. ”Edukasi tentang HIV/AIDS dapat diintegrasikan ke kurikulum yang sudah ada. Yang tak kalah penting ialah sejauh mana integrasi itu benar-benar terjadi di sekolah,” ujarnya.
Peringatan Hari AIDS Sedunia 2010 di Indonesia bertema Akses Pendidikan Universal dan Hak Asasi Manusia diikuti subtema Peningkatan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua guna menekan laju epidemis HIV di Indonesia dan tercapainya Tujuan Pembangunan Milenium.
Pada 1 Desember 2010 secara serentak para kepala sekolah akan membacakan amanat Menteri Pendidikan Nasional terkait AIDS yang diharapkan didengarkan oleh lebih dari 50 juta anak, remaja, dan pemuda.
Demikian terungkap dalam jumpa pers, Jumat (26/11) di Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta, terkait Peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2010 yang tahun ini dikoordinasi Kementerian Pendidikan Nasional.
Deputi Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Bidang Pengembangan Program Kemal Siregar mengatakan, salah satu indikator kinerja pengendalian HIV/AIDS ialah pengetahuan. Persentase perempuan dan laki-laki usia muda (15-24 tahun) yang mampu menjawab dengan benar cara-cara pencegahan penularan HIV serta menolak pemahaman yang salah mengenai penularan HIV baru 14,3 persen.
Persentase itu antara lain mengindikasikan belum banyak remaja yang menguasai dengan komprehensif dan benar tentang HIV/AIDS. Edukasi remaja menjadi penting karena remaja termasuk orang terinfeksi HIV. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus AIDS (kumulatif) sampai Agustus 2010 dari semua umur 21.770 orang.
Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional Hamid Muhammad mengatakan, edukasi HIV/AIDS selama ini diintegrasikan ke dalam kurikulum melalui Biologi dan Pendidikan Kesehatan Jasmani.
”Pekan depan akan ada review terhadap kurikulum dan pendidikan tentang HIV/AIDS dan lebih luas lagi soal reproduksi. Diusulkan agar lebih gamblang,” ujarnya.
Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rachman mengatakan, kekhawatiran tentang HIV/AIDS bukan berarti harus disikapi dengan membuat kurikulum khusus tentang hal itu. ”Edukasi tentang HIV/AIDS dapat diintegrasikan ke kurikulum yang sudah ada. Yang tak kalah penting ialah sejauh mana integrasi itu benar-benar terjadi di sekolah,” ujarnya.
Peringatan Hari AIDS Sedunia 2010 di Indonesia bertema Akses Pendidikan Universal dan Hak Asasi Manusia diikuti subtema Peningkatan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua guna menekan laju epidemis HIV di Indonesia dan tercapainya Tujuan Pembangunan Milenium.
Pada 1 Desember 2010 secara serentak para kepala sekolah akan membacakan amanat Menteri Pendidikan Nasional terkait AIDS yang diharapkan didengarkan oleh lebih dari 50 juta anak, remaja, dan pemuda.
Rabu, 01 Desember 2010
Menyikapi Hari AIDS Sedunia
Oleh : Ivan Elisabeth Purba
Setiap 1 Desember, kita mengenalnya sebagai Hari AIDS Sedunia, pemahaman tentang HIV/IADS perlu diperingati untuk dipahami oleh masyarakat bahwa penderita AIDS tidak perlu dikucilkan dan tidak perlu dicap dengan stigma negatif terhadap ODHA (orang dengan HIV/AIDS).
Untuk mengantisipasi penularannya, masyarakat harus bahu membahu untuk mencegah HIV/AIDS. Antara lain memperkuat iman, jauhi seks bebas, jauhi narkoba, jauhi penggunaan jarum suntik secara bergantian, dan yang terpenting lagi adalah pertahankan keutuhan keluarga.
Tren kasus HIV/AIDS di beberapa kota besar seperti Jakarta menunjukkan hampir 70 persen penularan virus HIV disebabkan oleh pemakaian jarum suntik secara bergantian oleh pengguna narkoba. Sedangkan 20 persen sisanya disebabkan oleh perilaku seks bebas dan seks menyimpang.
Peringatan Hari AIDS tahun ini mengusung tema besar "Akses Universal dan Hak Asasi Manusia" dengan sub tema nasional "Stop AIDS, Tingkatkan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua." Tujuan dari tema ini adalah memastikan bahwa ODHA memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan setara dengan orang yang sehat.
Semua pihak harus mengantisipasi terjadinya diskriminasi dalam dunia pendidikan, sekarang ini ODHA sudah sulit mendapatkan pekerjaan, bukan tidak mungkin nantinya mau sekolah saja harus tes HIV dulu. Padahal tidak boleh ada paksaan dalam melakukan tes HIV.
Tema peringatan Hari AIDS tahun ini juga mempunyai makna bahwa perlindungan hak asasi manusia adalah sesuatu yang fundamental dalam memerangi pandemi HIV/AIDS secara global. Tindakan yang mengabaikan hak asasi manusia akan memicu penyebaran HIV dan berpotensi meningkatkan mata rantai penularan. Dengan mengedepankan hak asasi manusia, maka pengidap HIV/AIDS bebas dari stigma dan diskriminasi sehingga mata rantai penularannya dapat diputus.
Beberapa waktu lalu, Sumatera Utara dihebohkan dengan pemberitaan tentang derita seorang bocah yang terkena virus HIV/AIDS. Yang menderita psikologis dan trauma seumur hidup akibat pemberitaan beberapa media adalah keluarganya.
Akibat dari pengetahuan masyarakat yang minim tentang HIV/AIDS, perlakuan negatif yang akhirnya diterima oleh para ODHA sering berujung pada pengusiran dan pengasingan. Ke depan masyarakat perlu menghapus anggapan negatif terhadap HIV/AIDS, terutama bagi penderita HIV/AIDS. Pengusiran bukan jalan terbaik dan akan menambah daftar luka mendalam bagi ODHA dan keluarganya.
Kurangnya informasi serta sosialisasi menjadi faktor utama ODHA terusir dari masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya. Itu sebabnya, perlu ada sosialisasi dan penjelasan kepada masyarakat tentang bahaya dan cara penularan HIV/AIDS. Hal ini harus dilakukan untuk mengurangi tindakan diskriminasi dan pengucilan masyarakat.
Kemudian, penyampaian informasi yang salah tentang HIV/AIDS terutama tentang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) telah membuat masyarakat bersikap diskriminatif. Banyak yang mengakui kalau sampai hari ini masih ada masyarakat yang terlanjur menyerap informasi keliru tentang HIV/AIDS. Bukan hanya masyarakat biasa, tenaga medis yang sehari-hari bekerja menangani orang sakit pun masih banyak yang memiliki pemahaman minim tentang HIV/AIDS dan ODHA.
Akibatnya, ODHA yang masuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan sering kali mengeluh diperlakukan secara diskriminatif oleh dokter, asisten dokter hingga perawat. Dari pengamatan di lapangan, masih banyak tenaga medis baik itu perawat, dokter hingga assisten dokter yang takut pada pengidap HIV/AIDS atau ODHA saat masuk ke rumah sakit.
Perubahan Perilaku
Minimnya pengetahuan dan pemahaman tenaga medis tentang HIV/AIDS dan ODHA tersebut, perlu mendapat penjelasan secara lebih rinci. Upaya untuk pengenalan dan penjelasan tentang ODHA ini harus lebih ditingkatkan dengan koordinasi yang berkelanjutan antara rumah sakit dan Dinkes Kabupaten/Kota di seluruh Sumut.
Sosialisasi penanganan medis bagi korban HIV/AIDS atau ODHA dapat meredam anti stigma dan diskriminasi tenaga medis terhadap pasien ODHA. Selain itu, sosialisasi secara langsung terhadap semua kalangan tentang upaya pengenalan penyakit, penularan penyakit dan pencegahannya harus dilakukan kepada semua kalangan tanpa mengenal latar belakang pendidikannya.
Sebenarnya, upaya-paya yang dilakukan pemerintah untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat cukup gencar melalui informasi dengan melibatkan lintas sektor termasuk media. Namun, informasi yang benar tidak begitu saja menghapus informasi keliru. Selain itu, tidak sendirinya berpengaruh langsung kepada perubahan perilaku.
Masyarakat yang tahu informasi benar seharusnya tidak menambah beban penderitaan ODHA. Perlu diketahui, virus HIV/AIDS tidak mudah menular, sebab hanya bersarang pada sel darah putih tertentu yang disebut sel T4. Karena sel T4 hanya ada pada cairan tubuh, maka HIV ditemukan dalam cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina dan cairan leher rahim.
Penularan HIV/AIDS dari cairan tubuh di atas harus masuk langsung dalam peredaran darah. Memang HIV ditemukan dalam jumlah sangat kecil di air liur, namun sampai sekarang belum ada bukti-bukti penularan lewat liur juga ASI. Cara penularan hanya melalui hubungan seksual dengan pengidap, tranfusi darah, lewat alat suntik atau alat tusuk lain seperti pisau cukur bekas dipakai tercemar HIV dan ibu hamil menghidap HIV kepada janin yang dikandungnya.
Virus ini cepat mati kalau berada diluar, karena itu HIV tidak bisa menular lewat udara. Sehingga tidak menular ketika bersenggolan, berjabat tangan, bersentuhan dengan pakaian, penderita bersin atau batuk-batuk di depan kita, berciuman (dalam konteks yang wajar), lewat makanan dan minuman, gigitan nyamuk serta bersama berenang di kolam renang.
Seluruh elemen masyarakat harus mengetahui lebih jelas tentang penyakit HIV/AIDS dan cara penularannya. Tidak hanya itu, dengan mengetahui informasi HIV/AIDS ini pun, masyarakat tak perlu lagi diskriminatif dan mengesampingkan ODHA.
Anti stigma dan diskriminasi seperti di paparkan di atas merupakan hambatan terbesar bagi penanggulangan HIV/AIDS. Untuk memperkecil anti stigma dan diskriminasi tersebut di Indonesia, khususnya Sumatera Utara pemerintah perlu bekerja sama dengan media dan melibatkan seluruh elemen masyarakat menggelar kegiatan kampanye bebas virus mematikan tersebut dengan tema Anti Stigma dan Diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) secara berkesinambungan.
Kegiatan seperti ini dilakukan tidak hanya dalam rangka peringatan hari AIDS sedunia yang jatuh setiap 1 Desember. Kampanye juga bisa dilakukan lewat kreativitas dan pemahaman generasi muda, khususnya pelajar terhadap ancaman HIV/AIDS melalui permainan edukatif, cerdas cermat, melukis dan membuat majalah dinding (mading).
Upaya lainnya bisa juga melalui pengkaderan dan menjaring relawan untuk memberikan pendampingan kepada ODHA, maupun memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui penyuluhan, edukatif dan promotif secara kontinyu serta melakukan monitoring.
Kampanye anti stigma dan diskriminasi juga bisa dilakukan lewat media massa dan media elektronik. Peran media sangat efektif dalam mengkomunikasikan HIV/AIDS dan menghapus anggapan negatif terhadap ODHA. Peran media dalam mengkampanyekan anti stigma dan diskriminasi serta mengangkat kasus-kasus HIV/AIDS di berbagai belahan dunia paling tidak dapat menjadi bahan bacaan positif bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.
Hampir setiap hari, media nasional dan daerah memberikan ruang tersendiri terhadap pemberitaan seputar masalah HIV/AIDS dan dampak yang ditimbulkannya. Dengan adanya pemberitaan secara berkesinambungan yang dilakukan media massa dan media elektronik diharapkan dapat membangun pradigma positif bagi masyarakat yang selama ini menaruh kepercayaan yang salah terhadap HIV/AIDS.
Keterlibatan seluruh elemen masyarakat seperti tokoh agama, ulama, tokoh adat, LSM, relawan, karang taruna, pemuda dan yang lainnya dalam mengkomunikasikan HIV/AIDS dan ODHA juga akan lebih memudahkan pemerintah dalam mengantisipasinya. Dengan upaya ini informasi positif tentang HIV/AIDS dan ODHA bisa sampai ke masyarakat luas. Sesuai dengan tema yang diangkat, "Stop AIDS, Tingkatkan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua." Memiliki tujuan, memastikan bahwa ODHA memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan setara dengan orang yang sehat.
Penulis adalah pemerhati masalah kesehatan, Ketua STIKes Mutiara Indonesia, Medan.
Hari AIDS, Pelajar Bandung Gelar Long March Merdeka
Rabu, 01 Desember 2010 | 10:40 WIB
Seorang aktivis mengenakan kostum kondom untuk mengkampanyekan pemakaian kondom untuk menghindari penularan HIV/AIDS di Seoul, Korea Selatan, (30/11). AP Photo/ Lee Jin-man.
TEMPO Interaktif, BANDUNG - Memperingati hari HIV/AIDS sedunia Ratusan pelajar SMA, SMK, SMEA di Kota Bandung melakukan aksi "Longmarch" ke pusat Kota di Jalan Merdeka.Mereka berjalan kaki dari sepuluh sekolah menengah atas sambil mengkampanyekan Hari AIDS sedunia dengan membagikan poster serta brosur mengenai pengetahuan HIV/AIDS.
"Ratusan pelajar ini dilibatkan untuk mengkampanyekan program pencegahan HIV/AIDS di kota bandung. Dan merekapun akan melakukan deklarasi pelajar mencegah AIDS," ujar Oji Mahroji Kepala Dinas Pendidikan sekaligus Ketua Panitia Hari AIDS Sedunia Kota Bandung Rabu (1/12/2010).
Para pelajar se Kota Bandung ini selain melakukan kampanye juga mendeklarasikan Sekolah Bebas Rokok, Menghindari Perilaku sex bebas, dan tidak melakukan deskriminasi pada para penyakit ODHA. Selain itu para pelajar juga membagikan poster kepada masyarakat yang melintas. "Sebagai wujud kepedulian pelajar, kita kampanyekan hari AIDS ini kepada masyarakat kota Bandung,," ujar Ridwan salah seorang pelajar
Peringatan Hari AIDS Sedunia yang dipusatkan di Jalan Merdeka atau tepat di Bandung Indah Plaza Mall ini dimeriahkan dengan hiburan angklung pelajar dari SMK 20 Bandung. Dan pemberian tamaman pohon pada para perwakilan sekolah untuk di taman di halaman sekola (ALWAN RIDHA RAMDHANI).
PBB Luncurkan Kampanye Cegah HIV/AIDS bagi Perempuan Muda
Badan penyakit AIDS PBB telah meluncurkan kampanye global untuk mencegah perempuan remaja dan perempuan muda terkena infeksi HIV. Virus penyebab AIDS tersebut merupakan penyebab utama kematian dan penyakit di kalangan perempuan berusia 15-49 tahun.
Direktur UNAIDS Michele Sidibe mengatakan hari Selasa bahwa remaja dan perempuan, yang menghadapi diskriminasi dan tidak adanya persamaan pria-wanita di negara mereka, biasanya lebih rawan terhadap penyakit itu.
Dia mengatakan rencana tindakan lima tahun diharapkan akan menghentikan tren tersebut dengan mengusahakan agar pemerintah, organisasi masyarakat dan pembangunan terlibat dalam penempatan perempuan sebagai pusat usaha penanggulangan AIDS mereka.
Menurut PBB, perempuan adalah separuh dari semua penderita HIV di seluruh dunia, dan di beberapa negara Afrika Sub-Sahara, 60 persen dari yang terinfeksi adalah perempuan.
sumber: http://www1.voanews.com/indonesian/news/PBB_HIV_AIDS-86264647.html
Dia mengatakan rencana tindakan lima tahun diharapkan akan menghentikan tren tersebut dengan mengusahakan agar pemerintah, organisasi masyarakat dan pembangunan terlibat dalam penempatan perempuan sebagai pusat usaha penanggulangan AIDS mereka.
Menurut PBB, perempuan adalah separuh dari semua penderita HIV di seluruh dunia, dan di beberapa negara Afrika Sub-Sahara, 60 persen dari yang terinfeksi adalah perempuan.
sumber: http://www1.voanews.com/indonesian/news/PBB_HIV_AIDS-86264647.html
HIV/AIDS DI MATA REMAJA
Penulis:
Raisa Aurora, Mahasiswi IPB
Satudunia, Jakarta. Perkembangan zaman saat ini telah mempengaruhi pergeseran nilai moral di masyarakat. Budaya seks bebas dan bahaya narkoba menghantui kehidupan remaja. Salah satu dampak paling riskan adalah penularan HIV/AIDS di kalangan remaja. Benarkah remaja kurang perduli dan kurang memahami bahaya HIV/AIDS? Apakah mereka update terhadap isu-isu seputar HIV/AIDS?
Dari pernyaataan sejumlah remaja yang dimintai tangapannya soal HIV/AIDS, umumnnya mereka kurang paham mengenai cara penyebaran HIV/AIDS. Beberapa menyebutkan bahwa HIV/AIDS bisa menyebar lewat cairan tubuh seperti keringat, air liur, atau berbagi pakai barang dengan penderita. Pemahaman ini jelas keliru, karena penyebaran HIV/AIDS tidak semudah itu. Meminum dari gelas yang sama dengan gelas penderita HIV pun tidak dapat menularkan HIV.
Dari pernyaataan sejumlah remaja yang dimintai tangapannya soal HIV/AIDS, umumnnya mereka kurang paham mengenai cara penyebaran HIV/AIDS. Beberapa menyebutkan bahwa HIV/AIDS bisa menyebar lewat cairan tubuh seperti keringat, air liur, atau berbagi pakai barang dengan penderita. Pemahaman ini jelas keliru, karena penyebaran HIV/AIDS tidak semudah itu. Meminum dari gelas yang sama dengan gelas penderita HIV pun tidak dapat menularkan HIV.
Begitu pula dengan berjabat tangan, memeluk, dan tindakan lain yang termasuk casual contact. HIV tidak dapat bertahan di luar tubuh manusia dan tidak dapat ditularkan melalui udara atau pun makanan. Penularan lewat air liur pun berlaku dalam jumlah tertentu, yaitu sekitar 1.500 liter. Sebenarnya, virus HIV itu tidak mudah menular. Berbeda dengan virus influenza atau virus lain yang dengan mudah menular dari satu penderita kepada orang lain. Ini karena virus HIV/AIDS bersarang pada sel darah putih tertentu yang disebut sel T4.
Kemudian menyinggung isu mengenai feminisasi penyakit HIV/AIDS, para remaja ini juga punya pandangan sendiri. “Harusnya istri-istri harus bisa lebih kritis sama suaminya? Jangan sampai suaminya ‘jajan’ ke luar,”, ujar Akbar Hardisurya (18) salah seorang mahasiswa dari perguruan tinggi terkemuka di Depok.
Masalah ini memang dibahas dalam sarasehan yang diadakan Yayasan Pelita Ilmu bulan Januari lalu mengenai ‘Selamatkan perempuan dan bayi dari HIV/AIDS’. Para istri harus kritis terhadap suaminya, mengetahui kegiatan suaminya dari pagi hingga malam, jangan sampai lolos ke tempat prostitusi. Hal itu dapat mencegah penyebaran HIV/AIDS dari suami kepada keluarganya. “Mendingan ada sosialisasi agar para istri untuk berani kritis kepada suaminya.”, lanjut Akbar.
Masalah ini memang dibahas dalam sarasehan yang diadakan Yayasan Pelita Ilmu bulan Januari lalu mengenai ‘Selamatkan perempuan dan bayi dari HIV/AIDS’. Para istri harus kritis terhadap suaminya, mengetahui kegiatan suaminya dari pagi hingga malam, jangan sampai lolos ke tempat prostitusi. Hal itu dapat mencegah penyebaran HIV/AIDS dari suami kepada keluarganya. “Mendingan ada sosialisasi agar para istri untuk berani kritis kepada suaminya.”, lanjut Akbar.
Akses informasi tentang HIV/AIDS juga dirasa kurang bagi teman-teman remaja. “Kalau perlu ada iklan layanan masyaraat mengenai HIV/AIDS yang unik dan kreatif. Kaya iklan-iklan rokok kan lucu tuh! Bisa mengundang tawa dan berbekas di benak kita,” tambah Akbar.
Lain lagi pendapat dari Alfinda Agyputri (18), seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta di Jakarta. “Keterbatasan informasi yang diterima salah satunya juga disebabkan keengganan dari kita untuk menyebarkan informasi ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Alfinda menambahkan bahwa masyarakat masih menganggap tabu untuk membicarakan masalah HIV/AIDS. Bila mereka mencari tahu sendiri takut ada tudingan bahwa dirinya mengidap HIV/AIDS.
Mengenai masalah seks bebas, Alfinda berkomentar: “Tentu harus ada anak-anak muda yang sudah tahu, mengerti, dan peduli untuk menjadi panutan. Misalnya Jonas Brothers yang mengampanyekan anti Free Sex di Amerika, dan mereka juga harus konsisten dengan perbuatannya. Jangan bilang A, tapi perbuatannya B”.
Masalah HIV/AIDS yang tidak kalah peliknya juga menyinggung stigma dan diskriminasi di kalangan masyarakat, apalagi bila diskriminasi itu datang dari rumah sakit. Beberapa kali diberitakan mengenai kasus ODHA yang ditelantarkan oleh pihak rumah sakit atas dalih ketidaktersediaan fasilitas.
Salah satu remaja yang kami temui, Akmi Retno (18), mengatakan, sebaiknya dibuatkan Rumah Sakit khusus penyakit kelamin atau HIV/AIDS agar kasus stigma dan diskriminasi medis tidak terulang kembali. Saran ini memang bisa menjadi salah satu solusi terbaik agar penderita HIV/AIDS tidak lagi merasa khawatir dan kebingungan untuk mencari pengobatan dan perawatan.
Salah satu remaja yang kami temui, Akmi Retno (18), mengatakan, sebaiknya dibuatkan Rumah Sakit khusus penyakit kelamin atau HIV/AIDS agar kasus stigma dan diskriminasi medis tidak terulang kembali. Saran ini memang bisa menjadi salah satu solusi terbaik agar penderita HIV/AIDS tidak lagi merasa khawatir dan kebingungan untuk mencari pengobatan dan perawatan.
Langganan:
Postingan (Atom)